Pembuat konten sekaligus afiliator, Marco Putra, membagikan pengalamannya membangun penghasilan melalui program afiliasi TikTok setelah tiga kali mengalami kegagalan bisnis. Dalam perbincangannya bersama Deddy Corbuzier di kanal YouTube, Marco mengungkapkan bahwa keputusannya menekuni affiliate marketing berawal dari kondisi keuangan yang sulit. Ia mengaku pernah berada dalam situasi ketika modal bisnis hampir habis, sementara kewajiban membayar karyawan dan kebutuhan hidup terus berjalan. Dari pengalaman tersebut, Marco mulai mengubah arah usahanya dengan berfokus pada aktivitas pembuatan konten dan penjualan melalui afiliasi.
Sebelum dikenal sebagai afiliator, Marco telah mencoba berbagai jenis usaha, mulai dari memproduksi saus sambal, membangun merek pakaian, hingga berdagang tripleks. Bisnis terakhir bahkan sempat mengalami kerugian besar akibat margin keuntungan yang tipis, biaya distribusi tinggi, serta persaingan dengan pedagang lain. Ia menceritakan bahwa pada awal Januari 2025, uang yang tersisa hanya sekitar Rp12 juta, termasuk dana operasional perusahaan. Situasi tersebut membuatnya harus mencari sumber penghasilan baru yang dapat menghasilkan arus kas lebih cepat.
Marco sebenarnya sudah mulai membuat konten sejak November 2022, tetapi saat itu aktivitasnya belum dilakukan secara serius. Konten yang dibuat masih beragam dan belum memiliki arah personal branding yang jelas. Ia kemudian mulai membangun gerakan bernama Lebih Ganteng pada November 2024 sebagai upaya memperkuat identitas dirinya di media sosial. Menurutnya, mengandalkan kerja sama dengan merek atau brand deals saja tidak cukup karena pemasukan dari endorsement cenderung tidak menentu. Kondisi itu mendorongnya mencari model bisnis yang memberikan kendali lebih besar terhadap peluang pendapatan.
Pilihan tersebut akhirnya mengarah pada affiliate marketing yang mulai ditekuninya pada Juni 2025. Marco mengaku terinspirasi oleh seorang temannya yang berhasil melunasi utang keluarga hingga miliaran rupiah melalui bisnis afiliasi. Ia kemudian mencoba model tersebut dengan modal awal sekitar Rp250 ribu. Menurut pengakuannya, pada bulan pertama ia memperoleh keuntungan bersih Rp21 juta, kemudian meningkat menjadi Rp50 juta pada bulan kedua dan Rp80 juta pada bulan ketiga. Setelah itu, penghasilannya disebut terus mencapai angka ratusan juta rupiah. Namun, Marco menegaskan bahwa hasil tersebut tidak bisa dianggap sebagai gambaran umum keberhasilan seluruh afiliator.
Dalam penjelasannya, Marco menyebut terdapat tiga faktor yang menurut pengalamannya berpengaruh terhadap keberhasilan affiliate marketing, yakni pemilihan produk, volume konten, dan personal branding. Pemilihan produk menjadi penting karena harus mempertimbangkan karakteristik konsumen serta kebiasaan pengguna platform. Ia mencontohkan produk dengan harga Rp400 ribu hingga Rp500 ribu belum tentu mudah dipasarkan kepada pengguna TikTok yang memiliki daya beli berbeda. Selain harga, popularitas merek dan aktivitas promosi dari pemilik produk juga dapat memengaruhi peluang sebuah video mendapatkan jangkauan lebih luas.
Faktor kedua adalah volume produksi konten. Marco mengaku mampu mengunggah sekitar 40 video afiliasi setiap hari, bahkan menyebut jumlah tersebut masih tergolong kecil dibandingkan sejumlah afiliator lain. Ia mencontohkan kreator yang bisa mengunggah hingga 1.400 video dalam sebulan. Dalam praktiknya, Marco mengatakan pembuatan video tidak selalu membutuhkan proses produksi yang rumit. Ia bahkan mengaku mampu membuat sekitar 100 video dalam waktu kurang dari satu setengah jam karena sudah mengenal produk yang dipasarkan dan terbiasa menyampaikan materi penjualan secara langsung. Meski demikian, ia menekankan bahwa kemampuan tersebut terbentuk melalui latihan selama bertahun-tahun.
Menurut Marco, memperbanyak konten juga berkaitan dengan peluang sebuah video mendapatkan distribusi lebih luas. Ia menjelaskan bahwa video dengan konsep dan pembuka yang serupa tidak selalu memperoleh jumlah penayangan yang sama. Bahkan, ketika mengunggah sepuluh video dengan materi hampir identik, hasil penayangannya bisa sangat berbeda. Karena itu, semakin banyak konten yang diproduksi, semakin besar pula kesempatan salah satunya memperoleh jangkauan dan menghasilkan penjualan. Namun, ia mengingatkan bahwa volume unggahan tidak otomatis menjamin keberhasilan karena performa konten tetap dipengaruhi berbagai faktor.
Marco juga menyoroti peran sistem periklanan platform, khususnya GMV Max di TikTok. Menurut penjelasannya, merek dapat mengalokasikan anggaran iklan untuk mempromosikan produk, sementara sistem berbasis kecerdasan buatan platform akan membantu memilih video yang dinilai berpotensi menghasilkan penjualan. Dalam kondisi tertentu, video milik afiliator dapat ikut mendapatkan distribusi melalui mekanisme tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya iklan sendiri. Ia menyebut peluang sebuah video terpilih tidak selalu mudah diprediksi. Konten sederhana, termasuk video yang tidak diproduksi dengan kamera profesional, menurut pengalamannya tetap berpeluang memperoleh jangkauan tinggi.
Faktor ketiga adalah personal branding atau identitas yang dibangun seorang kreator. Marco menilai kepercayaan konsumen dapat terbentuk ketika produk yang dipromosikan sesuai dengan citra dan keahlian kreator. Ia mencontohkan dirinya yang memasarkan pakaian olahraga dengan memanfaatkan identitas sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan pada kebugaran dan pembentukan tubuh. Namun, ia juga menyebut adanya afiliator yang membangun identitas sebagai pedagang umum sehingga dapat memasarkan beragam produk. Dengan demikian, personal branding tidak harus selalu berangkat dari keahlian khusus, tetapi juga dapat dibangun melalui karakter dan konsistensi seseorang dalam berjualan.
Di akhir perbincangan, Marco mengingatkan bahwa affiliate marketing bukan jalan pintas untuk memperoleh kekayaan. Ia menilai banyak orang terlalu mudah tergiur oleh cerita keberhasilan afiliator yang mampu menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah, padahal hasil tersebut tidak mewakili mayoritas pelaku. Menurutnya, memperoleh penghasilan Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan dari afiliasi saja sudah merupakan pencapaian yang baik. Ia juga menyarankan calon afiliator untuk terlebih dahulu melakukan riset, mengenali produk, memahami kemampuan membuat konten, serta menghitung waktu yang bisa dialokasikan. Bagi pekerja kantoran dan ibu rumah tangga, model bisnis ini dinilai berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan, selama dijalankan dengan persiapan dan ekspektasi yang realistis.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berpartisipasi dalam diskusi Trending Jogja. Sampaikan pendapat secara santun, relevan, dan bertanggung jawab. Komentar yang mengandung ujaran kebencian, spam, atau informasi menyesatkan tidak akan dipublikasikan.